Sebab Palestina, AI, ekonomi umat, guru agama, pesantren, keluarga, oligarki dan reforma agraria mempunyai satu kesamaan. Mereka tidak mengenal tepuk tangan. Mereka hanya mengenal akibat.
Walakin, kita tak perlu terlalu cepat menuduh KUII VIII menghasilkan rekomendasi yang terlalu umum. Kita baru membaca Taujihat dan belum meninjau seluruh rincian rekomendasi tujuh komisi. Sebaliknya, tak perlu pula terlalu cepat berpuas diri karena dokumennya lengkap.
Kelengkapan dokumen dan keberhasilan kongres adalah dua perkara berbeda. Sebuah resep bisa sangat lengkap. Tapi orang tetap akan lapar kalau kompornya tak pernah dinyalakan untuk memasak.
KUII VIII sudah melakukan pekerjaan besar: mempertemukan 87 ormas, memperluas cakrawala pembicaraan umat dari ekonomi sampai AI dan geopolitik, menyusun keputusan melalui tujuh komisi, lalu menetapkan bahwa pelaksanaannya merupakan tanggung jawab seluruh komponen umat di bawah koordinasi MUI.
Itu bukan hasil kecil. Malah justru karena hasilnya besar, tuntutan sesudahnya menjadi besar pula.
Walhasil, Ahad malam, mikrofon Bidakara dimatikan. Para tamu pulang. Kursi-kursi dibereskan. Makalah dibawa pulang. Foto masuk media sosial. Kongres selesai.
Tetapi halaman terakhir Taujihat meninggalkan satu kalimat yang tidak ikut pulang: seluruh keputusan harus ditunaikan dan diperjuangkan, sendiri-sendiri ataupun bersama, di bawah koordinasi MUI.









