Ternate, Sultan Jabir Syah dan Federalisme yang Pulang dari Masa Lalu

oleh -33 Dilihat

Justru sebaliknya.

Mungkin karena sebagian orang merasa bahwa menjadi Indonesia harus berarti mendapatkan keadilan sebagai bagian dari Indonesia.

Ada perbedaan besar antara mempersoalkan keutuhan negara dan mempersoalkan cara negara mengelola keutuhannya.

Yang pertama dapat mengarah pada separatisme.

Yang kedua adalah bagian dari demokrasi.

Karena itu, jangan buru-buru menyamakan kritik terhadap sentralisme dengan penolakan terhadap Indonesia.

Orang dapat mencintai rumahnya sambil mengkritik cara rumah itu dibangun.

Jabir Syah dan Pertanyaan yang Belum Selesai

Di titik ini, Sultan Muhammad Jabir Syah menjadi relevan bukan karena ia menawarkan jawaban yang harus ditelan mentah-mentah.

Ia relevan karena ia pernah mengajukan pertanyaan yang sampai hari ini belum sepenuhnya selesai.

Baca Juga  KATAM Maluku Utara Pertanyakan Transparansi dan Konsistensi Satgas PKH

Bagaimana sebuah negara kepulauan yang begitu luas dapat dibangun tanpa membuat sebagian wilayah merasa sekadar menjadi halaman belakang?

Bagaimana pusat dan daerah berbagi kekuasaan tanpa saling mencurigai?

Bagaimana kekayaan alam dapat menjadi berkah bagi masyarakat yang hidup di atas tanah dan laut tempat kekayaan itu berasal?

Dan bagaimana Indonesia dapat tetap satu tanpa harus membuat semua daerah menjadi seragam?

Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar perdebatan tentang istilah federal atau kesatuan.

No More Posts Available.

No more pages to load.