Al-Quds: Antara Salahuddin, Mazhab dan Zionis

oleh -995 views
Fazwan Wasahua

Islam yang kita pahami hari ini terlalu sempit untuk menampung keragaman. Terlalu keras untuk mendengar perbedaan. Terlalu lemah untuk melawan penjajahan, tapi terlalu lantang untuk membid’ahkan saudara sendiri.

Barangkali kita lupa: Al-Husain juga dibunuh bukan oleh orang kafir, tapi oleh umat Islam yang menganggapnya duri dalam kekuasaan. Kita sedang mengulangi sejarah itu—dengan bahasa yang lebih halus, dengan diplomasi yang lebih sopan, tapi tetap berujung pengkhianatan.

Mazhab boleh berbeda. Tapi penjajahan tak boleh diberi ruang. Sayangnya, kita lebih siap memusuhi saudara beda mazhab daripada melawan musuh bersama.

Jika Islam tak sanggup membela yang tertindas hanya karena ia Syiah, maka barangkali yang layak kita pertanyakan bukan hanya Iran—tapi diri kita sendiri.

Sementara itu, mereka pun punya dalil sejarah. Katanya: lihatlah Salahuddin. Sebelum membebaskan Al-Quds, ia menaklukkan Mesir—yang waktu itu dikuasai Dinasti Fatimiyah, sebuah kekuasaan Syiah Ismailiyah. Maka, kata mereka, untuk melawan penjajah, bersihkan dulu bid’ah dalam rumah sendiri.

Baca Juga  Marceau Haurissa Terpilih sebagai Direktur Poltek Negeri Ambon Periode 2026–2030

Lalu narasi itu dikutip, diulang, dicetak, disebar. Di mimbar-mimbar masjid dan seminar internasional. Seolah sejarah adalah garis lurus yang tak bisa digugat. Seolah realitas abad ke-12 bisa langsung dipindahkan ke abad ke-21, tanpa perbedaan konteks, politik, bahkan makna kezaliman itu sendiri.

No More Posts Available.

No more pages to load.