Gonone

oleh -141 views

Istilah doxing berasal dari masa lalu ketika komputer masih berbentuk kotak besar dengan layar yang terpisah dari piranti operasionalnya. “Docs” berarti mengumpulkan dokumen, data pribadi, foto atau video yang didapat dari hasil peretasan. Setelah data yang “privat” itu didapat, akan ada “pengancaman” yang jika tak dilayani maka berujung pada pemerasan. Doxing juga dipakai untuk membunuh karakter seseorang dengan menyebarkan informasi pribadi ke public seperti catatan medis, keuangan, hukum atau pesan-pesan tersembunyi dan foto – video pribadi.

Perusahaan-perusahaan keamanan cyber telah memberi peringatan akan kebangkitan modus kejahatan digital baru yang disebut “extortionware”. Bentuknya adalah mempermalukan korban dan memaksanya membayar uang tebusan. Bret Callow, analis di perusahaan keamanan cyber, Emsisoft mengatakan ; Hacker mencari data untuk bisa dimanfaatkan sebagai modal kejahatan. Jika ditemukan data itu entah memalukan atau adanya suatu kejahatan, mereka akan minta bayaran besar. Jika tak dilayani maka akun-akun palsu akan menyebarkan data itu ke publik.

Baca Juga  Kajati Malut Resmikan Kantor Baru Kejari Halbar, Wabup Djufri Sambut di Pelabuhan VIP Jailolo

Akhir tahun lalu, waralaba klinik bedah plastic “The Hospital Group” diminta uang tebusan dengan ancaman akan mempublikasi gambar “sebelum dan sesudah” pasien mereka jalani operasi bedah plastik. Awal 1900an, aktifis anti aborsi mengunggah nama, telepon dan alamat klinik aborsi. Buntutnya, delapan penyedia aborsi dibunuh oleh kelompok anti aborsi. Saat bom meledak di Boston Marathon tahun 2013, identitas pria bernama Sunil Tripathi dan keluarganya disebar di dunia maya. Sunil dituduh sebagai pelaku pemboman. Belakangan, FBI menangkap dua bersaudara Tsarnaev ; Dzhokhar dan Tamerlan yang jadi pelaku. Wikileaks juga pernah merilis 300 ribu email yang disebut milik Recep Tayyip Erdogan. Tujuannya untuk merusak reputasi Presiden Turki itu.