Gonone

oleh -139 views

Beberapa dari kita mungkin pernah mengalami “Impersonator”. Tetiba ada yang memberitahu bahwa ada akun dengan foto profil milik anda meminta bantuan – yang sering terjadi meminta pulsa telepon atau uang – atau menawarkan sesuatu untuk dijual. Padahal kita tak melakukannya. Jamaknya peniruan model ini menggunakan dirrect messenger atau pesan whatsapp. Jika tak hat-hati, kita akan sangat mudah tertipu. Kejahatan digital lainnya yang paling sering dilakukan adalah “Phising”. Modus operandinya memanfaatkan jejaring internet yang menjalar kemana-mana. Pelaku phising berupaya mendapatkan data dengan tekhnik pengelabuan, sebagaimana muasal “phising” dari kata “fishing” yang berkonotasi memancing.

Pelaku umumnya menggunakan akun dari lembaga resmi untuk meminta data. Padahal itu akun palsu. Jika tak diklarifikasi, korban akan memberikan semua data pribadinya. Lalu data-data itu “dijual”. Cara lain yang digunakan adalah dengan meretas bank data sebuah lembaga yang kredibel. Kasus bobolnya data 279 juta penduduk Indonesia yang diduga milik BPJS Kesehatan dan “diperjualbelikan” oleh akun Raidforum menunjukan bahwa kejahatan digital telah mencengkram banyak nadi kehidupan. Saling memilin dan penuh enigma. Bayangkan saja jika data kita seperti nama, jenis kelamin, tanggal kelahiran, alamat, nomor KTP, nomor telepon, besaran gaji bulanan, email, NPWP dan data lainnya beterbangan dengan bebas di jagat maya. Ada sekitar 20 juta data yang bocor itu lengkap dengan foto pula.