Gonone

oleh -144 views

Urusan meretas data berbasis internet sejatinya tak hanya bersinggungan dengan motif ekonomi semata, tetapi juga meluber hingga berkelindan dengan kepentingan politik dan militer. Itulah mengapa, kini kita mengakrabi “Proxy War”. Sebuah perseteruan antar dua kekuatan besar dengan menggunakan pihak lain untuk menghindari konfrontasi secara langsung sehingga dapat mengurangi kehancuran yang fatal. Dalam proxy war, tidak terlihat siapa lawan dan siapa kawan. Sebelum ada internet, perang model ini biasanya didahului dengan penyusupan para telik sandi. Orang-orang ini beroperasi ibarat bunglon. Menempel dalam diam. Bergerak mencari informasi sedetil mungkin terkait kemampuan musuh. Tak jarang mereka memainkan perang ganda.

Dalam epos Nuku Muhammad Amiruddin, Sultan terbesar Tidore yang mampu menyatukan Maluku di awal abad 18, peran telik sandi sangatlah krusial. Selama dua dekade Nuku menggalang kekuatan melawan Belanda, dirinya menyusupkan banyak orang kepercayaan ke pusat kuasa di Tidore dan Ternate. Yang paling terkenal adalah peran ganda yang dijalani oleh Sangaji Tahane, Muhammad Arif Bila. Catatan resmi Belanda menuliskan pengakuan akan kontribusi Arif Bila yang selalu membocorkan rencana serangan Belanda untuk menangkap Nuku sehingga “Prins Rebel” ini tak pernah tersentuh.