Ketika Memperingati Hari Kebangkitan Nasional Hanya Rutinitas Semata

oleh -641 views

Untuk merawat semangat kebangsaan itu para pemimpin bangsa harus senantiasa menciptakan “musuh” bersama atau sekurang-kurangnya “tantangan” bersama, seperti kemiskinan, rendahnya pendidikan dan kesehatan serta keterpurukan ekonomi. Dengan ketajaman visinya Bung Karno mengobarkan semangat kebangsaan dengan menciptakan berbagai tantangan seperti kekuasaan “nekolim” menggantikan atau meneruskan penjajahan Belanda. Semangat kebangsaan untuk melawan segala bentuk penindasan itu telah menjalar ke Asia dan Afrika sebagaimana tercermin dalam Konferensi Asia Afrika.

Selama puluhan tahun sejak kemerdekaan perjuangan Bung Karno tercurah untuk membangun dan memperkuat semangat kebangsaan dan terkenal perjuangannya itu sebagai “Integrative Revolution”.

Di-zaman Orde Baru pak Harto memformulasikan tantangan bersama, yaitu kemiskinan, rendahnya pendidikan dan kesehatan yang masyarakat yang buruk sebagai sarana untuk mengikat dan memperkuat semangat kebangsaan. Karena itu, kalau dahulu Bung Karno merawat kebangsaan dengan revolusi integrative, maka Pak Harto dengan pembangunan nasional.

Baca Juga  7 Tips Bahagia Jadi Wanita Single

Keduanya sebenarnya sama maksud dan tujuan, karena pembangunan itu pada hakekatnya usaha terencana untuk membebaskan rakyat dari berbagai tekanan dan kendala dalam mewujdkan kesejahteraan umum. Bung Karno, sesuai dengan kondisi pada masanya, menekankan pada upaya pembebasan dari belenggu penjajahan lama dan baru atau neokolonialism, sedang Pak Harto berusaha membebaskan rakyat dari belenggu kemiskinan, rendahnya pendidikan dan kesehatan agar mereka dapat berperan aktif dalam pembangunan bangsa yang merdeka dari segala bentuk penindasan.

No More Posts Available.

No more pages to load.