Koboi Kalah Perang

oleh -437 views

Kadang diabaikan, kadang dicurigai, kadang baru dicari ketika keadaan darurat. Tetapi kali ini, Perdana Menteri Shehbaz Sharif justru tampil seperti mak comblang paling sabar di kampung.

Ia mondar-mandir membawa pesan. Menenangkan ego. Membujuk pihak yang ngotot. Menyambung telepon yang tak kunjung berhenti berdering.

Dalam politik internasional yang dipenuhi lelaki-lelaki tua berwajah serius sambil memamerkan rudal, Pakistan datang membawa barang yang tampak kuno: kesabaran.

Barangkali memang ada saat ketika diplomasi lebih mirip pekerjaan ibu-ibu RT ketimbang jenderal berbintang empat. Yang satu membagi ancaman. Yang lain membagi teh hangat agar orang berhenti saling lempar kursi.

Lalu bagaimana nasib Israel? Inilah bagian yang membuat Benjamin Netanyahu sulit tidur nyenyak. Israel memperoleh kerusakan nyata terhadap musuh bebuyutannya. Namun ia tidak memperoleh kepastian bahwa ancaman itu benar-benar berakhir. Iran masih ada. Ambisi regional Iran belum sepenuhnya padam.

Baca Juga  Pertanyakan Dasar Hukum, DPP Hena Hetu Desak Audit Tarif VIP–Eksekutif Kapal Cepat Tulehu–Saparua

Kesepakatan damai ini bagi Tel Aviv mungkin seperti mencabut taring ular tanpa pernah yakin apakah bisa tumbuh kembali.

Karena itu, Israel akan terus menyimpan satu tangan di atas tombol darurat. Perdamaian boleh diumumkan. Tetapi rasa curiga tetap dipelihara seperti kaktus dalam pot: tidak indah dipandang, tetapi dianggap perlu untuk berjaga-jaga.

No More Posts Available.

No more pages to load.