The Washington Post menurunkan laporan khusus berjudul ‘Melawan Rintangan: Kuba Bisa Menjadi Pembangkit Vaksin Virus Korona.’
Namun, skeptisisme selalu muncul di tengah kebanggaan yang membuncah. Di Kuba, pengamat asing sedikit nyinyir dengan cerita sukses negeri itu menghasilkan lima vaksin.
“Jika tidak berhasil, mereka akan menyalahkan variannya,” ujar seorang pengamat asing.
Skeptisisme itu tidak sulit dipahami. Akses masyarakat Kuba ke obat-obatan dasar dan makanan sangat sulit. Warga meratap menyayat hati di WhatsApp untuk mencari obat antibiotik dan jantung.
Skabies, kondisi sangat gatal yang disebabkan tungau (seranga) pada kulit dan menular, sedang mewabah di Kuba. Tidak ada benzyl benzoate untuk mengobatinya.
Pihak berwenang menyalahkan embago 60 tahun AS terhadap Kuba, yang kemudian diperketat pada era Donald Trump dan belum dibebaskan oleh Joe Biden.
Situasi ini membuat orang bertanya-tanya mungkinkah Kuba mampu fokus pada Covid-19? Bencomo mengatakan kepada Nature; “Saya dapat meyakinkan Anda bahwa tidak satu sen pun uang yang digunakan untuk membeli obat-obatan dan makanan dialihkan ke pembuatan vaksin Covid-19.”
Untuk meluncurkan vaksinnya, Kuba menggunakan jaringan dokter dan perawat keluarga. Mahasiswa kedoketran berulang kali mengunjungi setiap rumah untuk memeriksa gejala, dan mengambil nama untuk program imunisasi.




