Lentera Padam

oleh -922 views

Aku tahu apa yang kubutuhkan membeli roti dan sebotol air mineral. Sisa uangnya tidak kugunakan begitu saja.
Selepas dari itu, di dalam perjalanan menuju rumah. Aku berasa ada seseorang yang membuntutiku. Jantungku berdegup kencang, Sesekali aku menoleh kebelakang.
hening.
Tak ada siapa pun di sana. Segera kuambil langkah seribu menembus malam dan cepat berlalu.

Dadaku kembang kempis akibat pelarian tadi. Batang kakiku terpancang sedikit gemetar di ambang pintu rumah. Suasana di sini gelap nyaris tanpa cahaya.
“Kakak pulang.” Suaraku pelan dan tak lugas, patah-patah. Jika aku memgucap sepenggal kalimat otakku terasa sakit yang luar biasa. Tak mampu mengambarkan deraanku. Yang kubisa hanya bertahan dan bertahan.
Seruan yang keluar dari kerongkonganku tidak sia-sia. Adikku menyabutnya dengan suka cita. Walaupun dia tahu aku akan meniggalkannya. Kami merangsek kedalam duduk bersila saling berhadapan. Di pertengan kami ada setabung lampu petromaks.

Baca Juga  Aktivitas Vulkanik Masih Tinggi, Evakuasi Pendaki Tewas di Gunung Dukono Tertunda

“Kak, aku terpilih menjadi peserta cerdas cermat mewakili sekolahku. Aku berharap kak Tera bisa hadir” Ucap adikku. kepalaku mengangguk dengan lemah.

“Makasih ya, kak. Aku seneng banget.” Aku tidak bener-benar percaya kalau umurku sampai matahari terbit besok pagi.
Tanganku bergerak menyodorkan selebar roti keju. itu roti kesukanya. Ia menerimanya dengan penuh senyuman. Tatapanku mengurung tubuhnya yang tengah memotong roti menjadi dua bagian. lalu ia memberiku. kuterima walaupun mulutku terkunci sempurna.

No More Posts Available.

No more pages to load.