Mengenal Tradisi Mandi Safar Masyarakat Kelimuri, Seram Bagian Timur

oleh -433 views
Tradisi mandi Safar warga Kilmuri, Seram Bagian Timur. Foto: Fitriansa Sima Sima Sohilauw/Crist Belseran

Porostimur.com, Bula – Warga masyarakat Kecamatan Kelimuri, Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku menggelar ritual mandi safar yang dipusatkan di pantai Desa Selor, Kecamatan Kelimuri.

Mandi safar ini diyakini sebagai bentuk menghilangkan atau membuangsegala penyakit dan kesialan. Selain itu sebagai ajang silaturahmi sesama warga setempat.

Ritual mandi safar ini digelar oleh warga masyarakat Desa Selor, Kecamatan Seram Bagian Timur Maluku, pada Rabu (21/9/2022).

Seluruh warga Selor hijrah dari perkampungan mereka menuju pantai Selor sejak Rabu dini hari guna menggelar ritual mandi safar.

Ratusan warga ini hijrah dari rumah mereka guna menggelar ritual mandi safar yang dilaksanakan setiap hari Rabu di akhir bulan Safar dalam kalender hijriah.

Baca Juga  DPRD Maluku Desak Pemerintah Segera Tuntaskan Sengketa Tanjung Sial

Warga yang berhijrah ini membawa sebagian perabot rumah tangga mereka seperti halnya mereka akan berkemah.

Ritual mandi safar merupakan bagian dari upaya mendekatkan diri kepada Allah Subhana Wataala yang dikisahkan dari Al Syeikh Muhammad bin Atwi Al Maliki Alhasani dalam kitab Abwab Alfaraj, menerangkan bahwa Nabi mengisyarat penyembuhan anaknya dengan ayat ayat syifa dalam Alquran.

Mengutip dari kisah masyarakat Seram Bagian Timur meyakini mandi Safar sebagai bentuk penyembuhan penyakit selain itu, selain itu, kata Dulla Fotti, tokoh agama Desa Selor, mandi safar ini diyakini sebagai tolak bala, agar kampung mereka terhindar dari serangan wabah atau penyakit.

“Kami lakukan ini sejak leluhur kami, diyakini dapat mengusir penyakit dan wabah dari kampung kami,” tuturnya.

Baca Juga  Desa Todowongi Jadi Kampung Pancasila, Kades Mancelina: Wujudkan Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari

Sehingga hijrah dari kampung dalam ritual mandi safar ini diyakini sebagai pembersihan terhadap kampung mereka dari wabah dan penyakit. 

Selain penyembuhan penyakit dan mengusir bala atau petaka mandi safar ini juga diyakini sebagai ajang silahturahmi karena semua warga dikumpulkan pada suatu tempat tanpa memandang tahta dan jabatan.

Dula menjelaskan tradisi ini sudah menjadi turun temurun sejak dari leluhur mereka, karena mandi Safar ini usai hijrah dari rumah ke tempat yang diguju warga selalu zikir dan melaksanakan ritual agama, guna keselamatan diri dan pemukiman mereka.

Mandi safar ini diakhiri dengan menulis ayat-ayat sifah di daun kemudian ditempatkan pada sumur atau wadah yang digunakan untuk mandi sebagai bentuk pembersihan diri dari penyakit. 

Baca Juga  Indonesia All Star Siap Tantang Aston Villa, Kurniawan Belum Tentukan Starting XI

Hal ini diyakini sebagai upaya embersihkan diri dari segalanya penyakit dan ritual ini diyakini sebagai penyembuh penyakit dan pembersihan pemukiman mereka dari wabah dan serangan penyakit.

Warga berharap tradisi mandi safar ini dapat dilestarikan oleh generasi muda sehingga budaya ini terus terjaga dan tidak punah hingga masa yang akan datang.

“Harapan kami ini harus dilestarikan sebagai budaya kita untuk anak-cucu yang akan datang,” ujarnya.

(red/viva.co.id)

No More Posts Available.

No more pages to load.