Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung pelajaran yang tidak sederhana. Natsir tidak mengajarkan integritas melalui pidato atau nasihat panjang. Ia mengajarkannya lewat keputusan yang disaksikan sendiri oleh anak-anaknya. Hari itu mereka memang gagal memiliki sebuah Chevrolet Impala. Namun, tanpa mereka sadari, mereka sedang menerima warisan yang nilainya jauh melampaui sebuah mobil: keyakinan bahwa kehormatan tidak pernah lahir dari apa yang berhasil dimiliki, melainkan dari kemampuan menolak apa yang bukan menjadi haknya.
Kesederhanaan itu terus menyertai Natsir hingga penghujung hidupnya.
Ketika ikhtiarnya menghidupkan kembali Partai Masyumi pada awal Orde Baru tidak berhasil, Natsir tidak larut dalam kekecewaan. Bersama sejumlah sahabat, pada 26 Februari 1967 ia mendirikan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII). Baginya, perjuangan tidak harus selalu berlangsung melalui panggung politik. Dakwah adalah jalan lain untuk mengabdi kepada umat.
Suatu ketika, Natsir mengibaratkan Dewan Da’wah sebagai sebuah mesin kecil pembangkit listrik yang diletakkan di belakang rumah, bahkan di bawah tanah. Mesin itu tidak perlu terdengar bising, tidak pula mencari perhatian. Yang penting, cahayanya sampai dan menerangi banyak orang. Begitulah ia memandang dakwah: bekerja dalam senyap, tetapi memberi manfaat yang luas.











