Rasuna kemudian menjadi satu-satunya alat transportasi paling diandalkan masa itu. Tak ada akses jalan darat atau kapal penumpang lain yang melayani rute pesisir Tehoru-Telutih dan Ambon. Pada tahun-tahun 1980-an hingga pertengahan 1990-an, Rasuna melayani keberangkatan dalam sebulan sekali ke Ambon. Baru pada 2000-an awal rute keberangkatannya dipersingkat menjadi seminggu sekali. Biasanya setiap hari Rabu KM Rasuna akan berangkat ke Ambon, lalu kembali lagi pada hari Senin minggu depan. Karena orang-orang desa disana telah terbiasa menghafal jadwal keberangkana Rasuna, mereka biasanya menentukan beberapa agendanya dengan berpatokan pada jadwal keberangkatan tersebut.
Jadwal keberangkatan Rasuna disampaikan dari toa kapal saat hendak berlabuh beberapa jam di desa-desa pesisisr sebelum akhirnya berangkat ke kota Ambon. Jika dari ujung-ujung tanjung, terdengar lantunan lagu-lagu Dian Piesesha, Meriam Bellina, Nike Ardilla atau Pance Pondang, pertanda Rasuna beberapa menit lagi akan singgahdi desa. “Pengumuman-pengumuman, kepada warga desa (…….), KM Rasuna akan berangkat ke Ambon pada hari Rabu. Hari Rabu, KM Rasuna akan berangkat ke Ambon”. Pengumuman keberangkatan ini kemudian diulang tiga kali diselingi lagu-lagu pop masa itu selama berlabuh.




