Sepanjang Laut Telutih: KM Rasuna dan Segala Kenangan

oleh -285 views

Misalnya saja, bagi anak-anak muda di tahun-tahun 2000-an awal. Biasanya saat turun dari Rasuna , mereka menggunakan pakaian bermerek terkenal (seperti Bata, Dagadu, Billabong, BlackID, Volcom, Ripcurl), model rambut  (biasanya dicat pirang dan ditata sedemikian rupa), mengubah gaya jalan, bersepatu Allstar bengkap, menggunakan istilah-istilah trend hingga berbicara persis dialeg-dialeg orang Kota Ambon. Mereka menirukan semua ini karena diklaim gaul dan modern. Dengan melakukan itu, status sosial mereka lantas dianggap terpandang di masyarakat desa. Dari cara bicara dan bergaya, pesan yang hendak dikatakan adalah “mereka baru saja dari Kota Ambon”.

Rasuna telah menjembatani interaksi sosial antara orang Kota yang diklaim maju dan desa yang dianggap tertinggal. Namun, dibalik model interaksi yang demikian terbentuk pola-pola survivalitas orang tua di kampung-kampung. Demi memenuhi kebutuhan anak-anaknya di Kota Ambon, para orang tua kemudian bekerja keras. Menjual hasil panen, menyewakan isi hutan, serta menjual hutan dan tanahnya.
Tania Muray Li (1999) menuliskan situasi dikotomik ini untuk menggambarkan kondisi sosial wilayah-wilayah pedalaman di Indonesia. Menurutnya, wilayah-wilayah pendalaman atau pinggiran ini tak lain adalah situs nostalgia, kemurnian, dan keramahan, sekaligus simbol keterpinggiran dan ejekan. Sebuah dikotomi yang sayangnya lebih menonjolkan sisi-sisi negatif seperti ketertinggalan dari daerah-daerah pedalaman atau pinggiran.