Sepanjang Laut Telutih: KM Rasuna dan Segala Kenangan

oleh -280 views

Jika sayup-sayup bunyi musik telah terdengar, orang-orang lalu berlari ke pantai. Mereka berbondong-bondong datang hanya untuk melihat Kapal Rasuna berlabuh. Beberapa orang tua bahkan harus tergopoh-gopoh menggendong anaknya karena takut tak sempat melihat Rasuna yang singgah cuma sebentar. Musik-musik pop dan keramaian yang hanya sebantar itu telah menjadi hiburan bagi warga desa selain satu buah TV Umum hitam putih di desa-desa mereka.

Sebagai alat transportasi modern satu-satunya, Rasuna telah membawa keceriaan yang bercampur aduk dengan rasa haru. Jika musim berangkat tiba, para orang tua ini biasanya menangis tersedu-sedu dan saling memeluk di pantai untuk melepas anak atau saudaranya yang akan pergi ke Ambon. Setelah singgah sebentar, sekoci kecil Rasuna kemudian bolak-balik mengangkut penumpang yang sudah menunggu di bibir pantai. Alunan lagu-lagu pop kemudian menghilang pelan-pelan. Rasuna menarik jangkarnya, melewati laut Seram ke Pulau Ambon. Orang-orang pulang ke rumahnya masing-masing. Lalu desa hening lagi seperti biasa. Para orang tua tadi harus siap melepaskan anaknya bertahun-tahun meski tanpa kabar. Maklum tak ada alat komunikasi dan transportasi setiap hari.