Sepanjang Laut Telutih: KM Rasuna dan Segala Kenangan

oleh -59 views
Link Banner

Oleh: Ardiman Kelihu, Mahasiswa S2 Fisipol UGM

Interaksi sosial orang-orang di Pesisir Tehoru-Telutih dengan kota Ambon tak bisa lepas dari peran Kapal Motor (KM) Rasuna. Kapal Rasuna bukan sekadar angkutan, melainkan menjadi “ruang” pertukaran sosial antara anak-anak pesisir di Tehoru-Telutih yang polos dengan kondisi sosial perkotaan yang diklaim maju. Rasuna tidak saja melayarkan anak-anak pesisir Tehoru-Telutih ke Ambon, melainkan juga membawa harapan-harapan mereka untuk beradu nasib disana.

Di masa-masa Rasuna berlayar, Ambon di tahun-tahun 1980-an adalah kota metropolit bagi semua orang. Tak terkecuali masyarakat Tehoru-Telutih. Bagi orang-orang desa disana, mereka yang telah ke Ambon kerap dikagumi dan dipandang memiliki kelas sosial yang tinggi di desa. Ia dianggap tahu segalanya soal kemajuan, dihormati karena pendidikan atau terpandang karena baru saja pulang dari kota. Meskipun dalam kesehariannya saat di Ambon, anak-anak desa ini tak jarang bersekolah sambil bekerja. Baik sebagai karyawan di warung-warung makan, menjadi pekerja pelabuhan atau buruh bangunan.

Dalam bayang-bayang orang desa di Tehoru-Telutih, Ambon adalah capaian tertinggi dan simbol kemajuan bagi mereka yang berani keluar dari desa. Orang berlomba-lomba menyekolahkan anaknya di Ambon. Ada yang menimbang hasil bumi, menyewakan pohon-pohon pala dan cengkih, atau nekat meminjam uang dan menjual tanah hanya untuk memberangkatkan anak-anaknya ke Ambon. Khusus untuk tanah dan hasil hutan biasanya dijual atau disewakan kepada pengusaha atau orang lokal di  desa. Para pengusaha yang tinggal di desa-desa Tehoru-Telutih saat-saat itu adalah orang China dan Bugis.

Link Banner

Rasuna kemudian menjadi satu-satunya alat transportasi paling diandalkan masa itu. Tak ada akses jalan darat atau kapal penumpang lain yang melayani rute pesisir Tehoru-Telutih dan Ambon. Pada tahun-tahun 1980-an hingga pertengahan 1990-an, Rasuna melayani keberangkatan dalam sebulan sekali ke Ambon. Baru pada 2000-an awal rute keberangkatannya dipersingkat menjadi seminggu sekali. Biasanya setiap hari Rabu KM Rasuna akan berangkat ke Ambon, lalu kembali lagi pada hari Senin minggu depan. Karena orang-orang desa disana telah terbiasa menghafal jadwal keberangkana Rasuna, mereka biasanya menentukan beberapa agendanya dengan berpatokan pada jadwal keberangkatan tersebut.

Jadwal keberangkatan Rasuna disampaikan dari toa kapal saat hendak berlabuh beberapa jam di desa-desa pesisisr sebelum akhirnya berangkat ke kota Ambon. Jika dari ujung-ujung tanjung, terdengar lantunan lagu-lagu Dian Piesesha, Meriam Bellina, Nike Ardilla atau Pance Pondang, pertanda Rasuna beberapa menit lagi akan singgahdi desa. “Pengumuman-pengumuman, kepada warga desa (…….), KM Rasuna akan berangkat ke Ambon pada hari Rabu. Hari Rabu, KM Rasuna akan berangkat ke Ambon”. Pengumuman keberangkatan ini kemudian diulang tiga kali diselingi lagu-lagu pop masa itu selama berlabuh.

Jika sayup-sayup bunyi musik telah terdengar, orang-orang lalu berlari ke pantai. Mereka berbondong-bondong datang hanya untuk melihat Kapal Rasuna berlabuh. Beberapa orang tua bahkan harus tergopoh-gopoh menggendong anaknya karena takut tak sempat melihat Rasuna yang singgah cuma sebentar. Musik-musik pop dan keramaian yang hanya sebantar itu telah menjadi hiburan bagi warga desa selain satu buah TV Umum hitam putih di desa-desa mereka.

Sebagai alat transportasi modern satu-satunya, Rasuna telah membawa keceriaan yang bercampur aduk dengan rasa haru. Jika musim berangkat tiba, para orang tua ini biasanya menangis tersedu-sedu dan saling memeluk di pantai untuk melepas anak atau saudaranya yang akan pergi ke Ambon. Setelah singgah sebentar, sekoci kecil Rasuna kemudian bolak-balik mengangkut penumpang yang sudah menunggu di bibir pantai. Alunan lagu-lagu pop kemudian menghilang pelan-pelan. Rasuna menarik jangkarnya, melewati laut Seram ke Pulau Ambon. Orang-orang pulang ke rumahnya masing-masing. Lalu desa hening lagi seperti biasa. Para orang tua tadi harus siap melepaskan anaknya bertahun-tahun meski tanpa kabar. Maklum tak ada alat komunikasi dan transportasi setiap hari.

Baca Juga  Belanda Menang 7-0, Ini Ungkapan Hati Sang Pelatih

KM Rasuna kemudian berlayar melewati desa-desa di pesisir Tehoru-Telutih. Untuk rute ke Ambon Rasuna berangkat dari arah timur Pulau Seram melewati Desa Werinama, Atiahu, Lahakaba, Ulahahan, Laimu, Tehua, Lafa, Wolu, Telutih Baru, Mosso, Hatu, Yaputih, Tehoru lalu berlabuh semalam di pelabuhan Tehoru. Besoknya baru berangkat ke Kota Ambon dengan pelabuhan singgah di Desa Tulehu. Di atas kapal Rasuna itulah, anak-anak pesisir dari berbagai desa di Telutih-Tehoru bertemu dan saling kenal. Mereka berteman, namun kadang juga berujung dengan salah-paham kecil.

Rasuna, selain alat transportasi, ia telah menyulap ruang waktu berlabuh sebagai pertemuan sekaligus perpisahan. Ia menjembatani mimpi, harapan, dan kepolosan anak-anak kampung yang berani bertaruh nasib di perkotaan. Karena Rasuna jua-lah, para orang tua di desa-desa rela menaruh kerinduan tak terputus pada anak-anaknya agar pulang ke kampung halaman.

Menanti Kiriman

Anak-anak desa itu sudah tiba di kota Ambon. Mereka kemudian bersekolah, bekerja, dan merantau disana. Setelah tiba di kota, sebagian besar dari mereka kerap menunggu kiriman uang dan makanan dari orang tua dan sanak saudaranya di kampung-kampung. Saat itu belum ada ATM, Bank terdekat, Handphone atau Mobile Banking. Orang biasanya menitipkan surat, uang atau kiriman-kiriman makanan ke mereka yang hendak ke Kota Ambon. Adapun beberapa makanan yang biasa dititipkan seperti, sagu kering, ikan kering, buah, dan roti. Itupun sekali sebulan, kadang juga tidak sama sekali. Saat-saat itu, menunggu jadwal tiba Rasuna sama halnya dengan memastikan stok makan tetap aman. Jika tak ada kiriman yang datang, mereka harus rela “mengikat perut” berhari-hari. Kalau pun ada kiriman makanan, mereka biasanya saling berbagi kiriman dengan tetangga kos-nya.

Kiriman-kiriman itu biasanya dipersiapkan satu dua bulan oleh orang tua di kampung-kampung. Dikemas dengan tidak sembarang, dipilih yang lebih berkualitas. Meskipun isinya cuma sagu, ikan atau roti kering, kiriman-kiriman itu dianggap paling berharga bagi orang tua. Tidak ada Jasa titip semacam JNE atau JNT. Kantor Pos pun hanya ada di ibukota. Soal berkabar ?. Hampir tidak pernah sama sekali. Tak ada Handphone di masa-masa itu. Satu-satunya media berkabar bagi orang tua di kampung-kampung adalah surat yang harus dititip ke sanak saudara yang akan ke Ambon. Untuk menerima satu surat saja, mereka harus menunggu satu bulan jadwal keberangkatan Rasuna.  

Beruntung Rasuna telah berbaik hati menghubungkan harapan orang tua di desa-desa dengan mimpi anak-anaknya di Kota Ambon. Hampir tidak ada referensi soal kota-kota lain di Indonesia selain Ambon. Orang hanya tahu, pergi ke kota artinya pergi ke Ambon. Jika bersekolah maka pergi ke Ambon. Ingin merantau dan bekerja maka berangkat ke Ambon.

Baca Juga  Yusuf Wally Minta Pemkot Efektifkan Anggaran

Menjadi Orang Kota

Rasuna seolah menjadi pintu masuk bagi orang-orang desa untuk menirukan budaya orang kota. Orang-orang desa yang kembali dari Kota Ambon dengan KM Rasuna ini kemudian memperkenalkan banyak sekali gaya hidup dan model pergaulan orang kota yang dianggap maju di kalangan anak-anak Kota Ambon. Bagi anak-anak muda di pesisir Tehoru-Telutih, ketika Rasuna hendak berlabuh di desanya, mereka mulai bersiap-siap untuk berdandan ala anak muda kota. Ini dilakukan untuk memperkenalkan standar bergaya terkini bagi anak-anak desa yang mereka cap tertinggal karena belum sempat pergi ke Ambon.

Misalnya saja, bagi anak-anak muda di tahun-tahun 2000-an awal. Biasanya saat turun dari Rasuna , mereka menggunakan pakaian bermerek terkenal (seperti Bata, Dagadu, Billabong, BlackID, Volcom, Ripcurl), model rambut  (biasanya dicat pirang dan ditata sedemikian rupa), mengubah gaya jalan, bersepatu Allstar bengkap, menggunakan istilah-istilah trend hingga berbicara persis dialeg-dialeg orang Kota Ambon. Mereka menirukan semua ini karena diklaim gaul dan modern. Dengan melakukan itu, status sosial mereka lantas dianggap terpandang di masyarakat desa. Dari cara bicara dan bergaya, pesan yang hendak dikatakan adalah “mereka baru saja dari Kota Ambon”.

Rasuna telah menjembatani interaksi sosial antara orang Kota yang diklaim maju dan desa yang dianggap tertinggal. Namun, dibalik model interaksi yang demikian terbentuk pola-pola survivalitas orang tua di kampung-kampung. Demi memenuhi kebutuhan anak-anaknya di Kota Ambon, para orang tua kemudian bekerja keras. Menjual hasil panen, menyewakan isi hutan, serta menjual hutan dan tanahnya.
Tania Muray Li (1999) menuliskan situasi dikotomik ini untuk menggambarkan kondisi sosial wilayah-wilayah pedalaman di Indonesia. Menurutnya, wilayah-wilayah pendalaman atau pinggiran ini tak lain adalah situs nostalgia, kemurnian, dan keramahan, sekaligus simbol keterpinggiran dan ejekan. Sebuah dikotomi yang sayangnya lebih menonjolkan sisi-sisi negatif seperti ketertinggalan dari daerah-daerah pedalaman atau pinggiran.

Rasuna selain berjasa menghubungkan akses desa dengan  kota secara mudah,
ia juga memberi kesan tentang kerasnya petaruhan hidup di kota yang sering beriringan dengan kemajuan. Rasuna juga telah membuktikan desa sebagai arena sosial yang solider sekaligus terpinggirkan dari kota yang sarat akan ekspektasi dan kemajuan. Dalam pertentangan-pertentangan itulah, Rasuna adalah ruang waktu sosial yang kemudian membentuk geliat dan keberenanian hidup orang-orang desa untuk merantau ke Kota. Sayangnya, riwayat hidup Rasuna kini tak lagi tersisa. Ia dilanda peristiwa naas lalu terbakar. Menyatu dengan laut Tulehu.

Rasuna (sumber : Moluks Historisch Museum)

Anasir Sosial
Rasuna adalah kapal yang telah menjadi “peristiwa sosial antropologis” menyangkut kisah hidup orang-orang di pesisir Tehoru-Telutih. Sebagai kapal yang menghubungan desa-desa di Tehoru-Telutih dengan Kota Ambon,  ada banyak sekali peristiwa sosial-ekonomi yang bisa dijelaskan untuk memetakan interkasi desa dengan kota. Rasuna secara langsung telah mengitervensi gaya hidup orang-orang di pesisir desa Tehoru-Telutih. Baik dari segi kondisi ekonomi, budaya popular (pop culture) hingga kelas sosial dan pertaruhan ekonomi.

Meminjam Hatib Abdul Kadir (2012:16) bahwa pada akhirnya banyak sekali ruang yang ternyata dibuat oleh subjek secara aktif. Dengan kata lain, masing-masing orang kemudian dapat membentuk pengalamannya terhadap ruang yang bersentuhan langsung dengan pengalaman sosial yang ia alami. Rasuna adalah salah “ruang” yang lebih banyak membentuk pengalaman sosial orang Tehoru-Telutih saat terhubung dengan kota Ambon di masa-masa awal interaksi .

Baca Juga  Pengurus DWP Kanwil Kemenag Malut Periode 2019/2024 Resmi Dilantik

Akses transportasi menggunakan Rasuna, telah membuka interaksi yang intens bagi orang-orang Tehoru-Telutih untuk mengenal Kota Ambon secara dekat. Mereka yang datang kesana punya tujuan macam-macam : untuk bersekolah, bekerja atau sekadar merantau. Rasuna juga menyisakan pemetaan sosial dan ekonomi di desa-desa Tehoru-Telutih. Orang-orang mulai terhubung ke kota Ambon, survive membangun basis ekonominya di kota atau bekerja dari desa untuk membiayai kebutuhan anak dan saudaranya di kota.  

Munculnya trend atau budaya popular orang-orang desa di Tehoru-Telutih yang kembali dari kota juga tak lepas dari terbukanya akses kota ke desa  yang terjembatani oleh KM Rasuna. Anak-anak muda yang tiba di desa saat musim liburan menggunakan kapal ini, telah membawa sejumlah budaya populer semisal gaya rambut, merk dan model pakaian, jenis sepatu, istilah-istilah “kota” yang dicap gaul hingga dialeg ala anak kota yang diinjeksi ke anak-anak desa. Semuanya dibentuk dengan sangat baik melaui interaksi orang-orang desa di Tehoru-Telutih seiring terbukanya akses ke Kota Ambon menggunakan Kapal Rasuna. 

Rasuna memiliki aspek ke-ruang-an yang bersisian dengan kondisi sosial orang-orang Tehoru-Telutih. Meminjam Levebfre (1974) , Rasuna adalah production of space. Ia bukan ruang fisik semata, namun telah menjadi ruang reproduksi peristiwa-peristiwa sosial yang mempertemukan banyak pengalaman, termasuk keterpinggiran. “Sebuah konsepsi ruang yang tidak bersifat given, melainkan dibangun melalui pengalaman”, kata filsuf fenomenologi Prancis Maurice Merleau Pounty (1962).  

Konstruksi keruangan inilah yang menjadikan Rasuna sangat ketat nilai sekaligus kontestatif. Pada satu sisi ia telah memberi standar terhadap kelas sosial, namun pada sisi lain kelas sosial tersebut tidak bersifat tetap melainkan kontestatif dan berubah-ubah. Misalnya saja, saat Rasuna seolah memberi batas tegas pada status sosial orang-orang disana : antara mereka yang terpandang dalam masyarakat (kelas atas) hanya karena pergi ke Ambon, dan mereka yang tetap tinggal di desa sebagai masyarakat menengah ke bawah. Padahal ketika ke Kota, orang-orang desa ini justru menjadi kelas terbawah di hadapan struktur masyarakat kota. Mereka menderita, karena jauh dari akses kiriman uang, harus merantau, menahan lapar atau menjadi pekerja kasar.

Rasuna telah meletakan satu periode sosial tersendiri bagi masyarakat Tehoru-Telutih. Namun periode sosial tersebut tidak-lah permanen. Periode sosial yang diletakan oleh Rasuna, bersifat tentatif karena menyilangkan ketertinggalan serta kemajuan desa dan kota secara berselingan. Ada masa dimana kota dianggap keras sedangkan desa jadi tempat ternyaman dan solid.  Sebaliknya, ada masa dimana kota dianggap maju dan desa dianggap tertinggal. Periode yang diletakan Rasuna ini kemudian menjadi transisi ketika orang-orang Tehoru-Telutih membicarakan tentang kemajuan, perkembangan akses ke perkotaan, sekaligus merayakan segala jenis kenangan tentang keterpinggiran. (*)