Akses transportasi menggunakan Rasuna, telah membuka interaksi yang intens bagi orang-orang Tehoru-Telutih untuk mengenal Kota Ambon secara dekat. Mereka yang datang kesana punya tujuan macam-macam : untuk bersekolah, bekerja atau sekadar merantau. Rasuna juga menyisakan pemetaan sosial dan ekonomi di desa-desa Tehoru-Telutih. Orang-orang mulai terhubung ke kota Ambon, survive membangun basis ekonominya di kota atau bekerja dari desa untuk membiayai kebutuhan anak dan saudaranya di kota.
Munculnya trend atau budaya popular orang-orang desa di Tehoru-Telutih yang kembali dari kota juga tak lepas dari terbukanya akses kota ke desa yang terjembatani oleh KM Rasuna. Anak-anak muda yang tiba di desa saat musim liburan menggunakan kapal ini, telah membawa sejumlah budaya populer semisal gaya rambut, merk dan model pakaian, jenis sepatu, istilah-istilah “kota” yang dicap gaul hingga dialeg ala anak kota yang diinjeksi ke anak-anak desa. Semuanya dibentuk dengan sangat baik melaui interaksi orang-orang desa di Tehoru-Telutih seiring terbukanya akses ke Kota Ambon menggunakan Kapal Rasuna.
Rasuna memiliki aspek ke-ruang-an yang bersisian dengan kondisi sosial orang-orang Tehoru-Telutih. Meminjam Levebfre (1974) , Rasuna adalah production of space. Ia bukan ruang fisik semata, namun telah menjadi ruang reproduksi peristiwa-peristiwa sosial yang mempertemukan banyak pengalaman, termasuk keterpinggiran. “Sebuah konsepsi ruang yang tidak bersifat given, melainkan dibangun melalui pengalaman”, kata filsuf fenomenologi Prancis Maurice Merleau Pounty (1962).




