Kiriman-kiriman itu biasanya dipersiapkan satu dua bulan oleh orang tua di kampung-kampung. Dikemas dengan tidak sembarang, dipilih yang lebih berkualitas. Meskipun isinya cuma sagu, ikan atau roti kering, kiriman-kiriman itu dianggap paling berharga bagi orang tua. Tidak ada Jasa titip semacam JNE atau JNT. Kantor Pos pun hanya ada di ibukota. Soal berkabar ?. Hampir tidak pernah sama sekali. Tak ada Handphone di masa-masa itu. Satu-satunya media berkabar bagi orang tua di kampung-kampung adalah surat yang harus dititip ke sanak saudara yang akan ke Ambon. Untuk menerima satu surat saja, mereka harus menunggu satu bulan jadwal keberangkatan Rasuna.
Beruntung Rasuna telah berbaik hati menghubungkan harapan orang tua di desa-desa dengan mimpi anak-anaknya di Kota Ambon. Hampir tidak ada referensi soal kota-kota lain di Indonesia selain Ambon. Orang hanya tahu, pergi ke kota artinya pergi ke Ambon. Jika bersekolah maka pergi ke Ambon. Ingin merantau dan bekerja maka berangkat ke Ambon.
Menjadi Orang Kota
Rasuna seolah menjadi pintu masuk bagi orang-orang desa untuk menirukan budaya orang kota. Orang-orang desa yang kembali dari Kota Ambon dengan KM Rasuna ini kemudian memperkenalkan banyak sekali gaya hidup dan model pergaulan orang kota yang dianggap maju di kalangan anak-anak Kota Ambon. Bagi anak-anak muda di pesisir Tehoru-Telutih, ketika Rasuna hendak berlabuh di desanya, mereka mulai bersiap-siap untuk berdandan ala anak muda kota. Ini dilakukan untuk memperkenalkan standar bergaya terkini bagi anak-anak desa yang mereka cap tertinggal karena belum sempat pergi ke Ambon.




