Wanu: Bangkitkan Desa, Bangun Maluku!

oleh -419 views
Fazwan Wasahua

Pandangan filsuf-filsuf Barat tentang pembangunan cenderung berangkat dari konsep pertumbuhan: lebih banyak, lebih cepat. Tapi dalam tradisi Islam dan kearifan lokal Maluku, pembangunan adalah perbaikan mutu hidup, bukan sekadar angka. Bung Hatta tak menulis ekonomi Indonesia dengan data saja, tapi dengan harapan. Ia percaya, desa harus dimajukan karena di sanalah letak kehormatan bangsa.

Desa di Maluku, jika diberi ruang untuk tumbuh, bisa menjadi pusat ekonomi yang berkelanjutan. Tapi ia harus dibangun dengan narasi sendiri. Bukan sebagai korban modernitas, tapi sebagai subjek dari sejarah yang panjang. Ekonomi desa bukan lagi proyek, tapi misi kebudayaan. Ia harus dimulai dari pemetaan potensi lokal, penguatan nilai kolektif, dan sistem distribusi yang adil dan berpihak.

Baca Juga  Terima Masa Aksi, DPRD Tegaskan Sidang Kasus Eks Brimob Maut Harus Digelar di Tual

Ladang bukan hanya tempat tanam. Ia adalah ruang batin. Di sanalah orang belajar menunggu, menakar, dan berbagi. Tapi kini ladang ditinggalkan karena harga tidak pernah berpihak pada petani. Sistem perdagangan global terlalu besar untuk mereka. Maka kita butuh sistem yang memotong rantai distribusi, mempermudah akses pasar, dan menegakkan harga wajar. Desa butuh perlindungan, bukan belas kasihan.

Ekonomi desa tak akan bergerak jika hanya menunggu dari atas. Ia harus digerakkan dari dalam, oleh warga, oleh kepercayaan, oleh struktur sosial yang sehat. Dalam pikiran al-Shadr, negara hadir bukan untuk mengambil alih, tapi mengatur agar pasar tak mencuri. Maka negara harus hadir di desa: bukan untuk mencaplok, tapi memfasilitasi. Negara harus menjadi teman, bukan tuan.

No More Posts Available.

No more pages to load.