Oleh: Ardiman Kelihu, Mahasiswa S2 Fisipol UGM
Interaksi sosial orang-orang di Pesisir Tehoru-Telutih dengan kota Ambon tak bisa lepas dari peran Kapal Motor (KM) Rasuna. Kapal Rasuna bukan sekadar angkutan, melainkan menjadi “ruang” pertukaran sosial antara anak-anak pesisir di Tehoru-Telutih yang polos dengan kondisi sosial perkotaan yang diklaim maju. Rasuna tidak saja melayarkan anak-anak pesisir Tehoru-Telutih ke Ambon, melainkan juga membawa harapan-harapan mereka untuk beradu nasib disana.
Di masa-masa Rasuna berlayar, Ambon di tahun-tahun 1980-an adalah kota metropolit bagi semua orang. Tak terkecuali masyarakat Tehoru-Telutih. Bagi orang-orang desa disana, mereka yang telah ke Ambon kerap dikagumi dan dipandang memiliki kelas sosial yang tinggi di desa. Ia dianggap tahu segalanya soal kemajuan, dihormati karena pendidikan atau terpandang karena baru saja pulang dari kota. Meskipun dalam kesehariannya saat di Ambon, anak-anak desa ini tak jarang bersekolah sambil bekerja. Baik sebagai karyawan di warung-warung makan, menjadi pekerja pelabuhan atau buruh bangunan.
Dalam bayang-bayang orang desa di Tehoru-Telutih, Ambon adalah capaian tertinggi dan simbol kemajuan bagi mereka yang berani keluar dari desa. Orang berlomba-lomba menyekolahkan anaknya di Ambon. Ada yang menimbang hasil bumi, menyewakan pohon-pohon pala dan cengkih, atau nekat meminjam uang dan menjual tanah hanya untuk memberangkatkan anak-anaknya ke Ambon. Khusus untuk tanah dan hasil hutan biasanya dijual atau disewakan kepada pengusaha atau orang lokal di desa. Para pengusaha yang tinggal di desa-desa Tehoru-Telutih saat-saat itu adalah orang China dan Bugis.




