Al-Quds: Antara Salahuddin, Mazhab dan Zionis

oleh -990 views
Fazwan Wasahua

Mungkin sudah waktunya kita membaca sejarah dengan cahaya nurani, bukan bara kebencian. Karena jika tidak, kita akan terus hidup dalam mitos yang membelenggu. Mitos bahwa kebenaran hanya milik satu mazhab, bahwa perjuangan hanya sah jika datang dari yang “murni”, bahwa kemenangan hanya mungkin setelah pengkhianatan terhadap saudara sendiri.

Dan dalam diam yang panjang itu, kita pun menjauh. Bukan dari musuh, tapi dari sesama. Bukan dari kebatilan, tapi dari kesempatan untuk benar-benar berjuang bersama.

Dalam sejarah yang kita pelintir, Salahuddin menang setelah memersatukan. Tapi dalam kenyataan hari ini, kita kalah karena terus bermusuhan.

Israel tidak peduli apakah kita Syiah atau Sunni. Apakah arab atau ‘ajam. Mereka hanya peduli satu hal: kita terpecah. Dan selama itu terjadi, Al-Quds akan tetap terkunci. Bukan oleh Syiah, tapi oleh keangkuhan kita sendiri.

Kita tidak sedang kalah karena kekuatan musuh. Kita sedang kalah karena kita memilih menjauh dari siapa pun yang bukan bagian dari kelompok kecil kita. Dan sejarah pun akan mencatat: ketika sebuah negeri kecil bernama Iran menawarkan perlawanan, kita—yang merasa diri Islam sejati—justru sibuk mempertanyakan mazhabnya.

Baca Juga  6 Zodiak Cewek yang Berani PDKT Duluan, Nggak Takut Penolakan!

Dalam kebisingan fatwa dan forum internasional, yang diam adalah hati nurani. Dan Israel tahu itu. Maka ia terus melangkah. Sementara kita masih sibuk bertanya: “Apakah mereka Syiah?”

No More Posts Available.

No more pages to load.