PID ini dibentuk pada 1916 oleh Gubernur Jenderal Johan Paul van Limburg Stirum, untuk meneror aktivis pergerakan kaum nasionalis pro-kemerdekaan Indonesia yang semakin terorganisir. Kemudian PID dilanjutkan fungsinya oleh lembaga baru yaitu Algemene Recherche Dienst, yang memiliki kewenangan yang sama dengan PID, untuk menekan dan menindaki oposisi dan ide nasionalisme Indonesia yang semakin marak saat itu. Tidak mengherankan jika Tan Malaka beberapa kali menyebut Ternate dan Ali Saus ini, sebagai bagian penting dari pergerakan politiknya. Catatan Tan Malaka ini, malah dihimpun sejarawan Prof. Harry Poeze, di Den Haag, Belanda.
A.M. Kamaruddin sendiri adalah teman satu bilik sel-nya Bung Hatta selama di internir di
Boven Digul. Syahrir dan Hatta ditangkap kemudian diasingkan ke Boven Digul pada 1935. Om Sau menjadi asisten Bung Hatta di Digul, sebelum Hatta bersama Sutan Syahrir
dipindahkan dari Boven Digul pada Desember 1935 ke Banda Neira hingga 1 Februari 1942.
Sedangkan Om Sau dibebaskan pada 1938. Bung Hatta-lah yang mengubah orientasi dan
ideologi politik revolusioner Om Sau menjadi seorang demokrat muslim, hingga kelak
memimpin Masyumi Maluku Utara setelah dibebaskan dari Digul. Hatta sangat
mempengaruhi Om Sau, karena Hatta dipenjara hanya membawa 1 koper pakaian, namun membawa 16 peti berisi buku-buku bacaannya.











