Kudeta

oleh -189 views

Demokrasi juga bisa mati karena kepemimpinan yang dipilih melalui sebuah proses demokrasi. Begitu simpulan dua ilmuwan politik asal Harvard University, Steven Levitsky dan Daniel Ziblat dalam “How Democracies Die”. Para pemimpin itu berkuasa dengan hasrat yang menghancurkan. Mereka cenderung menganggap rival sebagai musuh dan dikampanyekan secara terbuka untuk menyangkal legitimasi lawan. Mendorong terjadinya kekerasan, mengintimidasi kebebasan pers dan mengancam hasil pemilu melalui pembentukan opini destruktif yang masif.

Kudeta – entah dengan senjata atau persekongkolan jahat dalam diam – pada masa lalu dan kini tetap memiliki wajah yang sama. Wajah kekerasan. Dalam lakon itu, wajah kekerasan disamarkan dengan jargon dan bahasa politik yang menipu. Seolah-olah perebutan kekuasaan adalah jalan keluar yang berujung kebaikan. Padahal para pelaku kudeta sejatinya menafsirkan “kebaikan” hanya untuk memastikan identitas kelompoknya menjadi terhormat dan berkuasa tanpa batas. “Bahasa politik dirancang untuk membuat kebohongan terdengar jujur dan pembunuhan menjadi dihormati”. Begitu sastrawan futuristik George Orwell memberi pengingat.

Baca Juga  5 Ciri Haji Mabrur dalam Islam, Bukan Sekadar Pulang dari Makkah

Dalam babad Ternate, kudeta kerap pula berseliweran dengan perebutan pengaruh untuk menjadi Sultan. Intriknya kadang berlangsung posesif di kalangan istana. Tak jarang pula melibatkan pihak “luar” yang secara terselubung menginginkan Kesultanan Islam terbesar di timur Nusantara ini bubar dan lenyap.