Hanya berkuasa selama tiga tahun, Tabariji dan Nukila juga ditangkap oleh Portugis dengan tuduhan palsu dan dibuang ke Gowa, India. Di hadapan Raja Muda Portugis, Tabariji “dipaksa” berpindah keyakinan jika ingin bebas. Ia juga diminta membuat traktat bahwa Ternate – Kesultanan Islam – yang diproklamirkan kakeknya, Sultan Zainal Abidin pada tahun 1486 harus takluk menjadi wilayah Kristen dibawah penguasaan Portugis.
Tabariji setuju. Ia yang berganti nama menjadi Don Manuel dibebaskan dan dikirim pulang ke Ternate untuk menjadi Sultan. Setibanya di Malaka – dalam persinggahan untuk pulang, Ia meninggal disana. Ibunya Boki Nukila yang juga berpindah keyakinan dengan nama Donna Isabela memilih menetap di Gowa bersama adik Tabariji, Donna Catarina.
Di Ternate, Khairun Jamil menjadi Sultan. Tak ada intrik dan persekongkolan jahat. Istana Sultan tak lagi dibawah tekanan dan kuasa pihak asing. Khairun membatalkan semua perjanjian pendahulunya dengan Portugis.
Dalam perspektif kekinian, kudeta yang berujung perampasan kekuasaan dengan atau tanpa kekerasan sejatinya hanya menjadi media pemuas “hasrat kebinatangan politik” – meminjam pikiran Aristoteles. Babad di atas dan beberapa cerita kudeta hanya melahirkan kegetiran dan kehancuran. Tak ada yang abadi jika segalanya dimulai dengan pemaksaan dan kekerasan. Dan sebaiknya kita melawan. Melawan berarti memutus pengulangan sejarah, déjà vu.





