Kudeta

oleh -188 views

Selain Deyalo dan Boheyat, perkawinan kedua Nukila dengan Pati Sarangi juga memberinya seorang putera bernama Tabariji. Nukila meski telah menjadi Ratu yang secara “samar tak diakui” menjalankan roda pemerintahan, hidup dengan tanggungjawab berat. Membesarkan tiga puteranya dengan mandat penuh berupa wasiat Sultan untuk meneruskan kepemimpinan Ternate. Ia tak disukai kalangan dalam istana yang dimotori Taruwese dan menghadapi tekanan Portugis untuk segera menyelesaikan bentengnya di Ternate yang juga berarti melukai hati ayahandanya, Sultan Tidore yang didukung Spanyol.

Tujuh tahun menjadi Ratu dan memimpin Ternate bersama Tarawuse, Nukila menyaksikan anaknya Deyalo yang telah tumbuh dewasa dilantik sebagai Sultan ke III (pemimpin Ternate ke 21 jika merujuk pada sejarah berdirinya Kerajaan Ternate) dengan gelar Hidayatullah. Hanya setahun Deyalo menjadi Sultan. Pada tahun 1529, Deyalo disingkirkan melalui sebuah kudeta yang diatur oleh Tarawuse dengan dukungan penuh Portugis. Tarawuse – adik Sultan Bayanullah – yang saat itu menjadi Jogugu (Perdana Menteri) merasa berhak atas mahkota Sultan. Ia berkomplot dengan Gubernur Jorge De Menezes dan dibantu Pati Sarangi. Portugis jelas menginginkan kontrol penuh atas Ternate dan Pati Sarangi punya misi terselubung menjadikan anaknya Tabariji sebagai Sultan.