Lentera Padam

oleh -947 views

Berdiri di depan daun pintu mobil, kecil harapanku setabung kalengku terisi uang receh.
Tatkala. kedua bola mataku menerobos masuk kedalamnya. Aku terperanjat nyaris jantungku lepas dari sangkarnya. Berbarengan dengan kaleng dalam genggamanku terlepas menghantam bumi.
Di sana ada sebentuk sosok perempuan duduk di kursi paling depan. Saat melihatku ia terburu-buru menutup kacanya. wajah itu terlukis jelas didalam dinding hatiku. dan tak akan mungkin pudar.

Diambang kesedihan, tubuhku membungkuk untuk meraih wadah recehku. Aku tak sadar air mataku menetes-netes bagai gerimis tipis. Air mataku tak pernah kering menangisi kepergianmu. Ibu.
Kuayunkan kakiku secepat mungkin meliper kebelakang. Melanjutkan ritualku bernyanyi riang dalam kepalsuan.
Beberapa jam berlalu entah ada berapa jendela mobil yang kusinggahi tetap saja kalengku kosong, tak buahkan hasil.

Baca Juga  AS–Iran Siap Lanjutkan Perundingan di Islamabad, Fokus Nuklir dan Selat Hormuz

Di pertiga malam. Kakiku melenggang di atas trotoar. Mataku menyapu lampu sodium yang bertengger di tepi jalan. Memencarkan bias cahaya kekuningan menerangi perjalanku. Tumor yang teramat sangat ganas tiap detik menggerogoti mulutku, penyakit ini membuatku cepat berasa lelah.
Kududukan tubuhku di tepi trotoar. Bersampingan dengan wanita malam yang sedang menikmati sebatang rokok.

No More Posts Available.

No more pages to load.