Kami tutup mulut, kami salah
Kami angkat suara, kami salah
Kami tinggal di kampung, kami kalah
Kami tinggalkan kampung, kami jahat
Kami takut tidur dalam nyenyak
Sebab nyenyak terbitkan mimpi
Kalau bermimpi, kami jatuh lagi
Di kesalahan terdalam dan gelap bernama pengharapan
Kami takut datang rasa rindu
Sebab rindu kami cuma badan tanah
Tetapi tak ada butir tanah rindukan kami
Begitulah kami, satu bangsa haramjadah
Kami duduk secara liar di atas tanah
Sekalipun tanah tidak cinta kami
Tapi semoga kiamat tiba hari ini
Kami merayakan dengan penuh kebebasan
Datanglah, hakim pengadilan kiamat
Ketuk palu: Sepetak neraka untuk Rohingya!
Maka kami tinggalkan Bumi tanpa sidik jari
Menuju kobaran api cinta, neraka merdeka
Ambon, 8 Desember 2023
=========
PELAYARAN PALING SASTRAWI
Tidak ada pelarian lebih sastrawi selain perjalanan Rohingya
Tidak ada perjalanan lebih sastrawi selain pelarian Rohingya
Bayangkan satu langkah beranak seribu puisi
Tentang keindahan luka nanah dan kemarau air mata
Tentang kepedihan cinta, solidaritas dan banjir tenggang rasa
Matahari sudah tutup mata
Bulan sudah tidur
Kami di punggung ombak tak dikenal
Kami salah baca peta dan cuaca
Tak ada gelombang cinta menjilat kapal kami
Semua jarak ternyata ada batas
Semua laut ternyata ada ujung
Semua cinta ternyata ada syarat
Hanya langit megah dengan keluasan sayapnya
tanpa ujung, tanpa syarat, tanpa ayat









