Secarik Rindu di Atas Kertas

oleh -664 views

Jari-jari mungilnya berhenti menulis. Maniknya menatap sedih pada kertas itu. Seakan alam sedang turut serta menemani suasana yang kalbu. Cahaya sang surya meredup, bersembunyi dibalik awan abu menyelimuti.

“Maaf jika membuat kamu teringat kembali, tetapi ada satu hal yang sedari lama ingin sekali aku berikan. Itupun jika kamu bersedia membacanya”
“Dengan senang hati” ucap Aluna lembut. Awalnya ia sedikit merasa bingung kenapa laki-laki dihadapannya memberikan semacam surat dengan balutan amplop merah tua.

Aku melihat ciptaan Tuhan yang sangat manis sedang mengajak bicara seekor burung. Dari kejauhan ia tampak sangat antusias, burung itu seolah menanggapi dengan tak kalah sama. Mereka adalah dua makhluk ciptaan Tuhan termanis yang pernah kulihat.
Salah satunya si pemeran utama yang paling menarik hati saat pertama kali melihatnya, siapa dia?
Sejak saat itu, wajah manisnya sudah termaktub dalam sang Amigdala. Ketika wajahnya terhias oleh lengkungan senyumnya yang damai, entah kenapa membuat hati terguncang setelah sekian lama terasa tak berfungsi
Kenaikan ritme getarannya semakin bertambah hingga tak karuan, bukan tanpa alasan. Aku rasa aku kembali bertemu dengannya. Untuk yang kedua kalinya
Dua kali? Hebat sekali dia
Pertemuan yang tak bertampik membawa pengaruh hebat. Aku tidak mau langsung menghardik bahwa itu benar adanya

No More Posts Available.

No more pages to load.