Julian, seorang penguasa Ceuta, turut membantu sebagai intel dan penyedia kapal. Julian memberikan dukungan penuh dengan menyediakan perahu untuk membawa pasukan Islam ke Andalusia.
Perjalanan pasukan dilakukan secara rahasia, dengan pengangkutan dilakukan pada malam hari secara bolak-balik untuk menghindari kecurigaan musuh. Kapal-kapal yang membawa pasukan ini bergerak dari Ceuta dan berlabuh di tempat yang sudah direncanakan oleh Thariq bin Ziyad.
Namun, pendaratan pasukan tidak berjalan sepenuhnya lancar. Pada awalnya, Thariq bin Ziyad berniat mendarat di Jazirah Al-Khadra’ (Algeciras), tetapi kota itu dijaga ketat oleh pasukan Visigoth. Thariq bin Ziyad kemudian mengubah rencana dan memutuskan untuk mendarat di Pegunungan Calpe, yang terletak di sebelah timur Algeciras.
Pegunungan ini kelak dikenal sebagai Jabal Al-Fath yang artinya gunung penaklukan, atau lebih populer disebut Jabal Thariq atau Gibraltar, selain itu selat yang diseberangi oleh pasukan muslim juga disebut dengan selat Gibraltar yang namanya diambil dari panglima perang Bani Umayyah yakni Thariq bin Ziyad. Di lokasi ini, Thariq bin Ziyad memanfaatkan kondisi geografis yang strategis untuk menjadikan gunung tersebut sebagai markas utama pasukannya.










