Setelah Mikrofon Dimatikan

oleh -71 Dilihat

Bukan berarti MUI berubah menjadi super-ormas. Justru jangan. MUI tidak perlu mengambil sekolah Muhammadiyah, pesantren NU, kader Persis, rumah sakit ormas, koperasi pesantren atau bisnis pengusaha Muslim.

MUI cukup menjadi “API-nya”. Yang punya pengetahuan bertemu yang punya jaringan. Yang punya uang bertemu yang punya proyek. Yang punya laboratorium bertemu yang punya masalah. Yang punya pasar bertemu yang punya produk. Yang punya gagasan bertemu yang punya tangan.

Di situlah istilah “Rumah Besar Umat Islam” memperoleh makna lebih dari alamat di Jalan Proklamasi. Rumah besar bukan rumah yang semua penghuninya tidur di kamar yang sama. Rumah besar adalah rumah yang membuat penghuninya tahu kapan harus bekerja bersama.

Baca Juga  Letakkan Batu Pertama KNMP, Bupati Hanubun Targetkan Ekonomi Nelayan Malra Meningkat

Dan ada satu adegan kecil pada malam penutupan yang menurut saya layak dikenang. Setelah Taujihat dibacakan, seorang peserta mengingatkan Palestina. Dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina agar memperoleh haknya secara adil perlu ditegaskan. Forum menerimanya.

Adegan itu sederhana, tapi mempunyai pesan penting. Dokumen ternyata masih bisa berubah karena suara dari lantai kongres. Mudah-mudahan sesudah kongres pun demikian: keputusan tetap hidup karena ada orang yang terus mengingatkan, mengoreksi dan mengerjakannya.

No More Posts Available.

No more pages to load.