Euforia Piala Asia U23: Nasionalisme, Pendidikan, dan Olahraga

oleh -839 views

Bukan hanya pencinta sepak bola, dari kalangan anak-anak sampai ibu-ibu, semua ikut meramaikan. Mulai dari tempat nongkrong, pinggir jalan, pasar, di atas kapal, sampai gang-gang kecil kampung, semua berteriak adu emosi melihat timnas.

Sebagai guru, fenomena ini saya bawa ke dalam kelas sebagai pemantik pembelajaran. Siapa yang semalam nonton Indonesia? Hampir seisi kelas mengangkat tangan, termasuk para siswi. Para guru lain dengan pertanyaan serupa, jawabannya juga sama. Mereka semua begadang.

Artinya, euforia mendukung timnas ini adalah bukti bahwa rakyat sangat butuh pemersatu sekaligus menandakan masih begitu tinggi nasionalisme itu.

Di satu sisi kita tahu persoalan politik begitu menjemukkan, korupsi, perampasan tanah, pendidikan, dan lain sebagainya—yang membelit bangsa ini, ternyata dengan hadirnya timnas, persatuan suara dan dukungan itu masih ada.

Kita sebagai rakyat seperti masih punya harapan untuk menempelkan prestasi pada nama besar bangsa ini. Ada sejarah yang ingin bangsa ini tulis dan abadikan. Harapan itu ada pada olahraga.

Baca Juga  Tim SAR Selamatkan 5 Awak Kapal Yuni Bahari yang Alami Bocor di Laut Banda

Belajar dari Pendidikan Jerman

Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan seorang guru kindergarten Jerman yang seorang WNI, Vicky Anastasha.

Dialog ini mulanya ingin mengenal lebih dekat peta konsep dan pikiran pendidikan di Jerman. Mengingat cara berpikir kita saat membicarakan pendidikan selalu berkiblat pada Barat, khususnya Finlandia dan negara lainnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.