Mata Hari: Mata-mata Perang Dunia I Berdarah Jawa yang Eksotis

oleh -546 views

Ketika Zelle berusia delapan belas tahun, ia melihat iklan di surat kabar tentang seorang Kapten Tentara Belanda Rudolf MacLeod di Hindia Belanda yang sedang mencari pasangan hidup—seorang istri.

Ia melihatnya sebagai peluang untuk keluar dari kepayahannya. Zelle juga berniat untuk kembali ke kampung halaman ibunya di Jawa. 

“Meskipun MacLeod dua puluh tahun lebih tua darinya, Zelle menjawab iklan tersebut. Mereka akhirnya menikah pada 11 Juli 1895, di Amsterdam,” lanjutnya.

Pasangan itu menetap di pulau Jawa dan memiliki dua anak: Norman-John dan Louise Jeanne. Selama tinggal di Jawa, Zelle sempat menyelami budaya Indonesia. 

Ia bergabung dengan komunitas tari lokal. Menurut de Plume, ia mengadopsi nama panggung Mata Hari yang dalam bahasa Melayu berarti “matahari” atau “mata hari”.

Baca Juga  BPK Temukan Pertanggungjawaban Reses DPRD SBB Tak Sesuai Realisasi
Potret Mata Hari dalam balutan busana tarinya, diwarnai ulang oleh Olga Shirnina.

Pernikahannya dengan MacLeod tidak seperti yang dibayangkan wanita muda itu. MacLeod, seorang pecandu alkohol. 

Selain itu, “ia juga kerap kali memukuli istrinya dan secara terbuka memelihara seorang njai, seorang selir yang tinggal di rumah Belanda—dalam bahasa Hindia Belanda,” terus Nom de Plume. Ketika kembali ke Belanda pada tahun 1902, Zelle dan MacLeod resmi berpisah.

Setelah bercerai, Zelle memutuskan untuk mencari peruntungan di Prancis. Ia memiliki serangkaian pekerjaan di Paris, termasuk model artis dan pemain sirkus. Nama Mata Hari membuat karirnya benar-benar melejit!

No More Posts Available.

No more pages to load.