Al-Quds: Antara Salahuddin, Mazhab dan Zionis

oleh -33 Dilihat
Fazwan Wasahua

Kita bisa berdebat sepanjang hari tentang posisi tangan dalam shalat, tapi enggan berdiri tegak melawan peluru. Kita bisa berteriak lantang soal sesatnya Syiah, tapi mendadak bisu ketika anak-anak Palestina ditanam hidup-hidup di bawah reruntuhan rumah mereka.

Apa sebenarnya ukuran kita dalam berislam? Apakah kita mengukur keimanan orang dari arah mazhabnya, atau dari siapa yang berdiri melawan kezaliman? Bukankan perlawanan terhadap kezaliman adalah salah satu esensi ajaran yang fitrawi? Apakah kita masih bisa disebut umat Muhammad jika kita membiarkan penjajahan terus langgeng dementara kita saling berselisih atas nama mazhab?

Iran tentu tak lepas dari banyal kesalahan. Politiknya berlapis. Seperti juga negeri-negeri Arab. Seperti juga kita. Tapi ada hal yang tak bisa diabaikan: Iran tidak bersekutu dengan Israel, tidak dengan Inggris, juga Amerika. Sementara sebagian dari kita justru mengadakan forum dagang bersamanya.

Baca Juga  Dari 20 Ribu Hektare Rumput Laut hingga 79 Kampung Nelayan, Ini Hasil Lobi Pemprov Maluku di Jakarta

Ada yang menyebut perlawanan Iran sebagai sandiwara. Tapi mereka yang mati di Lebanon selatan tak menyebutnya begitu. Mereka yang terkena rudal balasan di Haifa tahu itu bukan lakon. Mereka yang bertahan di Gaza juga tahu siapa yang mengirimkan senjata, dan siapa yang hanya mengirim doa di mimbar-mimbar mewah.

No More Posts Available.

No more pages to load.