Penulis: Mansyur Armain
Porostimur.com, Buli – Masyarakat Buli di Gunung Wato-wato, Kecamatan Buli, Halmahera Timur, Maluku Utara, hidup dan bernafas bersama alam. Mereka memanfaatkan sungai dan lahan perkebunan sebagai sumber penghidupan. Mereka tersebar di 10 desa, diantaranya Desa Buli Asal, Wayafli dan Buli Karya. Kemudian Teluk Buli, Sailal, Buli, dan Geltoli. Serta Gamesan, Baburino, dan Pekaulang.
Sehari-hari masyarakat Buli ada yang bekerja sebagai petani dan ada pula nelayan. Sebagai umat beragama mereka menjalani hidup dengan penuh toleransi. Meskipun memiliki kepercayaan yang berbeda-beda, tetapi nilai-nilai sosial budaya dan adat dapat dijalankan secara bersama, tanpa memandang siapapun orangnya.
Sayangnya, kondisi tersebut tidak berjalan lama. Masuknya PT. Priven Lestari di Buli dengan tujuan membuat jalan houling, membuat masyarakat dari 8 desa yang ada merasa dikucilkan dari tanah sendiri. Aktivitas membongkar hutan disinyalir dilakukan pihak PT tanpa izin dan tidak diketahui oleh masyarakat Buli.
Dari kejauhan, dapat dilihat barak perusahaan PT. Priven Lestari terletak persis di atas gunung Wato-wato. Barak tersebut dijadikan sebagai tempat istirahat para kontraktor usai menggusur hutan. Hanya dibutuhkan beberapa menit menggunakan sepeda motor untuk menuju lokasi PT. Priven Lestari di gunung Wato-wato.





