Gunung Wato-wato, Benteng Terakhir dan Kisah Orang-orang Buli

oleh -1,358 views

Menurut suku  yang tinggal di Desa Labi-labi, Kecamatan Wasilei Utara, dalam cerita,”iantoa” mereka pernah menemukan akan kecil dan dipelihara hingga dewasa sehingga terjadi konflik.

“Saya tidak tahu, kenapa ia menghilang. Karena menurut cerita, dia menghilang dan berpesan, kalau saya di laut itu “iantoa” atau disebut orang adat Buli artinya, “ian” (Ikan) dan “toa” (Tuna). Dengan demikian berarti ikan tuna ekor kuning, dan masyarakat  di Buli tidak pernah makan ikan tersebut,” tuturnya.

Ungkapan “Iantoa” Lukas menambahkan, bila  berada di laut, yang menjadi perahu adalah tuna, sedangkan di darat perahunya yaitu, burung taun-taun. “ Jika Ngoni (kalian) mendapat susah (mengalami kesusahan,red), panggil saja burung tersebut, itu terbukti ketika orang-orang membuat ritualnya,” paparnya.

Baca Juga  Iran Hentikan Operasi Militer ke Israel, Ancam Serangan Lebih Besar Jika Agresi Berlanjut

Biasanya dalam pembongkaran gunung Wato-wato ada prosesi ritualnya. Hal itu membutuhkan anggaran yang cukup besar, karena dihadiri langsung dari berbagai unsur FKPD di lingkungan Pemerintah Halmahera Timur. Namun ritual tersebut hingga saat ini belum dilaksanakan. Meskipun PT. Antam sempat menyampaikan agar membuat ritual tersebut.  

“Untuk rumah adat, ada orang khusus yang menjaga,  seperti untuk menyapu halaman maupun membersihkan rumah. Termasuk ketika mendekati malam, mereka biasanya memberi penerangan dengan membakar poci. Sementara di Buli,  torang (kami,red) punya pengawal seperti Gimalaha dari agama Islam, serta ada juga Bobato Akhirat dan Dunia. Jadi tugas dari dua Bobato ini, hal-hal yang berkaitan dengan akhirat dan dunia,” lanjutnya.