Gunung Wato-wato, Benteng Terakhir dan Kisah Orang-orang Buli

oleh -1,368 views

“Jadi ikatan yang kuat antara orang yang mendiami Halmahera Timur dan Tengah (termasuk Buli), hampir dalam semua Sultan,  mereka terlibat aktif membela harkat dan harga diri mereka bersama Kesultanan Tidore dan puncaknya yiatu,  pada masa Sultan Nuku berkuasa. Hanya saja dalam beberapa peristiwa sejarah orang Buli tercatat sebagai orang Maba karena memiliki kesamaan dalam kultur,” katanya.

Dalam pandangan orang Buli, gunung Wato-wato adalah ibu yang melindungi anaknya yaitu, orang Buli, bahwa sebetulnya hampir semua orang Maluku Utara memandang Tanah dan Air (air laut dan lautan) adalah Ibu karena tanah dan laut menghidupkan mereka.  Dahulu,  laut juga sangat berarti bagi orang Maluku Utara, karena sebagian besar penghidupan diproses di laut setelah mendapat di hutan.

Baca Juga  Mengapa Kami Yakin Belanda Juara Piala Dunia 2026

“Jadi antara tanah, hutan, dan air adalah satu kesatuan yang tidak terlepas dengan orang Maluku Utara,” ujarnya.  

Jojau Kesultanan Tidore, M. Amin Faroek mengungkapkan, gunung Wato-wato mempunyai cerita tersendiri dari orang tuanya (aba), ia berjalan kaki dari Kaiyasa sampai di dekat gunung Wato-wato dengan membenarkan gunung tersebut, artinya (telanjang) ketika dipandangan dari lautan.

“Kalau menurut saya punya Aba cerita, di kawasan gunung Wato-wato ada karamat (jere). Perempuan itu, dia memiliki suami 7 orang, jadi ada urutan. Dia terus melakukan ziarah, baik di dalam air dan darat, dan tentunya pengetahuan torang (kami) belum sampai disitu, tetapi ia pernah sampai di Buli, tetapi Gimalaha Lolobata belum pernah sampai tersebut”, cerita Paman dalam sapaan keseharian warga.