“Prinsipnya, saya tidak menuntut apa-apa. Sebab ia punya tujuan baik demi banyak orang yang menggantungkan hidup di gunung Wato-wato sebagai sumber mata air, bukan air mata,” cerita Lukas.
Lukas mengatakan, hampir semua daerah, kampung serta gunung, identik dengan orang (manusia,red). Meskipun tidak dapat dibuktikan secara mendasar dan nyata. Ungkapan itu, kata Lukas, sebenarnya kemungkinan dipakai oleh orang-orang berpendidikan tinggi, bahwa gunung Wato-wato seperti seorang ibu yang melindungi anak-anaknya.
“Berkaitan dengan ritual rumah adat “iantoa” ada dua yaitu, pertama, setiap hari Jumat, biasanya anak-anak muda memberi tahu kepada penjaganya dengan mengatakan “torang mau baku tikam” (kami saling menikam) menggunakan pohon dalam sebutan orang Buli “Golobo”, kedua, meminta izin kepada pihak Kecamatan untuk mencari “tuturuga” (penyu) agar diberi makan,” jelas Lukas.
Namun saat itu, dari Polres Halmahera Timur tidak memberi izin untuk mencari hewan “tuturuga” (penyu) dengan tujuan memberi makan. Sebab hewan tersebut dilarang dan dilindungi. Meskipun bagi masyarakat yang membuat ritual “iantoa” tidak menjadi persoalan, bila dilakukan khusus untuk adat.
Sebagai ketua BPD Desa Wayafli, Lukas menjelaskan, di konflik 1999 tahun lalu, masyarakat Buli tidak takut menjalankan ritual tersebut karena mereka percaya, bahwa “iantoa” merupakan pahlawan untuk menghadang atau mengusir rusuh antara agama ke tempat lain.





