“Jika merusak, maka generasi akan hancur. Bukan hanya dari aspek lingkungannya, tetapi dari kultur dan sosial-budaya. Kalau kebun, bapak saya punya sudah lama berkebun dan luasannya hampir 2 hektare. Tetapi tanahnya PT. Priven Lestari sudah mulai bor. Sebagai masyarakat dalam menghuni gunung Wato-wato, tetap kami menolak keberadaan perusahan PT. Priven Lestari,” jelasnya.
Berdasarkan cerita warga dari Desa Teluk Buli, Ismunandar Marsaoly (39), yang pernah ia dengar dari tetua kampung di Buli seperti Almarhum Sangadji Maba dan Musakie, dahulu orang Maba dan Sangadji Maba punya wilayah dan tempat tinggal.
Di wilayah itu, ada pulau dan tanjung di Buli yang memiliki nama seperti, Gau, Gie dan lainnya, bagian dari nama leluhur Maba yang dahulu bermukim di teluk Buli. Singkat cerita, ada orang tetua di kampung ini mendapat ancaman dari Belanda dari pasukan Kao Ternate dalam rangka perebutan wilayah. Saat itu, mereka berkeinginan untuk merebut Maba sehingga Sangadji Maba meminta bantu orang-orang Buli.
“Orang Buli dulunya, hidup di Wasilei Timur tepat di daerah Iga dan Labi-labi, Wasilei Timur . Mereka diminta migrasi ke Buli dengan alasan karena permintaan Sangadji Maba untuk melindungi mereka dari pasukan Kao dari Kerajaan Ternate,” cerita Ismunandar.





