Gunung Wato-wato, Benteng Terakhir dan Kisah Orang-orang Buli

oleh -1,369 views

Ismunandar menyampaikan, ia tidak tahu apakah sudah ada penelitian atau belum tentang kehidupan orang-orang Buli dan Maba, selain dari cerita turun temuran tersebut.

Dorang (mereka) Maba diminta pindah dan hidup di Buli, sedangkan orang Maba dan Sangadji pindah di wilayah Maba. Atas dasar pertimbangan itulah, bahwa di Maba relatif aman untuk ditempati dan tidak ada gangguan dari pasukan Kao-Ternate, karena di belakang Maba saat itu, daerah rawa,” paparnya.

Akibat migrasi itu, memungkinkan ada ikatan sejarah panjang sehingga sebagian orang Buli Asal masuk Islam dan Nasrani. Itulah, hubungan toleransi yang kuat tentang Maba dan Buli.

“Teluk Buli disebut sebagai kampung tua dan induk dari semua suku besar di Halmahera Timur. Ini menjadi identitas dan budaya di Buli, jika dirusak dengan aktivitas perusahan PT. Priven Lestari di gunung Wato-wato, tentunya berdampak secara signitifkan terhadap lingkungan,” singkatnya.

Masyarakat tolak eksploitasi Gunung Wato-wato

Baca Juga  Militer AS Bantu Israel Tangkis Serangan Rudal Iran, Ketegangan Kawasan Kian Meningkat

Salah seorang warga Desa Wayafli, Ernes Bawang (63), mengaku ia merupakan orang pertama yang punya kebun sebesar 2 hektar di lokasi yang saat ini diduduki PT. Priven Lestari. Di dalamnya ada pohon cengkeh, nenas, dan jenis tanaman lainnya.