Sebagaimana Desa Buli adalah kampung tua, terdapat hubungan antara gunung Wato-wato dalam aspek sejarah dan budaya orang Buli dan Maba, kata Irfan, sebenarnya masyarakat di desa Buli percaya bahwa pada zaman dahulu penduduk asli desa Buli adalah mereka yang berasal dari suku bangsa Tatam, Gagaili, dan Maba yang tinggal di tepi sungai yang berada di sekitar gunung Wato-wato.
“Dari situlah, ada pertimbangan untuk kemajuan wilayah maupun toleransi antara umat beragama, maka tiga suku bangsa tersebut dibagi menjadi Buli Sarani, Buli Asal, dan Buli Islam,” terangnya.
Menurutnya, dinamakan Buli Sarani karena mereka beragama Kristen, karena bagi mereka yang beragama Islam dinamakan Buli Islam, dan Buli Asal. Maka saat itupun, mereka masih menganut kepercayaan lokal. Saat ini, karena pertimbangan wilayah dan toleransi beragama, Buli Islam diganti menjadi Buli Karya, Buli Sarani, dan sekarang menjadi Buli dan Buli Asal yang masih tetap dipakai sebagai identitas bahwa mereka adalah penduduk asli Buli, sekalipun mereka telah menganut agama Islam maupun Kristen.
Sementara dalam kontak awal, orang Maba dan Buli sejak masa pemerintahan Sultan Ciriliyati alias Djamaluddin (1495-1512 M) mungkin saja jauh sebelumnya, hanya saja pembuktian masih butuh dikonfirmasi dari Kesultanan Tidore.





