Gunung Wato-wato, Benteng Terakhir dan Kisah Orang-orang Buli

oleh -1,376 views

Ia bercerita, saat itu  kehadiran perusahan PT. Priven Lestari belum sampai 1 tahun, Gimalaha Lolobata pernah menyurat dan memberi denda kepada mereka sebesar Rp50 miliar.

“Suatu ketika, ada perusahan milik mantan Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan, Hamid Muhammad  melihat surat teguran yang ditulisnya. Ketika melihat surat tersebut, dia bilang,” ini saya punya om, sehingga dia membawa staf perusahan ke rumah ini,” katanya.

Saat tiba di rumah, Amin Faroek bilang kepada staf perusahan itu, untuk bertemu dengan Bupati Halmahera Timur dengan tujuan meminta izin keterangan beroperasi, tetapi radiusnya harus jauh dari gunung Wato-wato karena di gunung tersebut banyak situs sejarah.

“Jadi benda budaya yang bergerak dan tidak bergerak di laut maupun di darat ada aturan-aturan khusus. Cerita ini, banyak tumpang tindi tentang gunung Wato-wato, cuma torang (kami) ambil dari sisi bahasa, kenapa tidak memakai bahasa Buli atau Gamrange, dan harus pakai bahasa Tidore, karena dulu dipandangan dari laut persis dengan seorang perempuan,” cerita Jojau.  

Sepanjang daratan Halmahera, ada kejaiban-keajaiban alam dan sudah menjadi sunnatullah. Memang dari dulu, sudah ada tanda-tanda seperti burung, hanya ditakuti adalah Babi. Negeri ini bertuan, tetapi nawaitu torang (kami) tidak pernah merusak habitat. Atau bisa  memakai bahasa “Tabea” (permisi) dan bilang, bahwa kami adalah anak cucu, ketika bertemu dengan hal-hal demikian.