Namun melihat radius dalam penambangan di atas ternyata bertolak belakang dengan kondisi di lapangan. Sebab di belakang Buli terdapat dua desa yakni, Desa Baburino, dan Desa Tegaulan yang jauh dari bandara. Namun ketika dilakukan penambangan secara massif delapan desa lainnya itu akan mengalami dampak secara langsung.
“Berdasarkan peta dari delapan desa tersebut, dapat memberikan ancaman kesalamatan masyarakat Buli. Keselamatan yang dimaksud seperti, air bersih yang berada di belakang gunung Wato-wato, biasanya dipakai oleh warga sekitarnya untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Purnomo.
Termasuk instalasi PDAM yang dibangun Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur di belakang Desa Buli akan terancam tercemar ketika air sungai tercemar.
“Dengan infrastuktur tersebut, direncanakan dari Pemda Halmahera Timur akan membuat Perda serta membentuk satuan kerjanya,” cerita Purnomo.
Menurutnya, lokasi penambangan PT. Priven Lestari sangat dekat dengan rumah warga. Jika dilakukan ploting area, ada beberapa rumah warga dari delapan desa yang lokasinya paling belakang masuk dalam lokasi IUP.
Di bagian depan Desa Buli, pernah ada penambangan seperti yang terjadi di Tanjung Buli, Antam, dan STS. Sementara sisa di belakang desa tersebut warga gunakan untuk berkebun.





