“Kalau sungai yang berada di atas gunung Wato-wato adalah hulunya, sedangkan hilirnya semuanya masuk dalam Kota Buli,” ucapnya.
Bila gunung Wato-wato jika dibongkar, lanjut Purnomo, dapat dipastikan semua sungai akan tercemar. Tak hanya itu dengan kondisi topografi sangat curam tentunya mengakibatkan banjir.
“Itupun kalau dibongkar, tetapi tidak dibongkar, sering terjadi banjir. Itulah alasan-alasan dasar sehingga kami torang (kami) membuat penolakan secara besar-besaran,” jelasnya
Purnomo menjelaskan ada dugaan PT. Priven Lestari dapat mengakses gunung Wato-wato melalui jalur “jalan belakang”. Meskipun belum ada bukti yang dapat membenarkan tudingan tersebut, namun menurut keterangan beberapa warga Buli sempat diminta PT. Priven Lestari melakukan penandatangan dengan tujuan mendukung proses penambangan, bahkan warga dirayu dengan iming-iming lahannya akan dibayar.
“Aktivitas Perusahan PT. Priven sementara ini dihentikan dengan rencana mau bangun jalan hauling, tetapi pengeboran tetap terus berjalan,” kata Purnomo.
Berkaitan dengan jalan hauling, lanjut Purnomo, saat ini diketahui sudah masuk di salah satu desa. Mereka memasukan alat pengeboran dengan tujuan mencari titik kadar O. Pada saat dilakukan pengoboran ada tanah merah yang keluar.





