Gunung Wato-wato dan ritual “iantoa”

Menurut cerita masyarakat Buli, gunung Wato-wato diibaratkan sebagai seorang perempuan yang sedang tidur. Layaknya seperti ibu merawat, menjaga dan menyusui anak-anaknya. Jika dipandang dari lautan, gunung tersebut terlihat persis menyerupai perempuan, mulai dari anggota tubuh dari ujung kaki hingga rambut. Dari gunung tersebut, ada 9 sungai yang mengalir sampai ke Subaim.
Lukas Feblun (51) warga Desa Wayafli menceritakan asal usul hubungan rumah adat “iantoa” dan gunung Wato-wato yang harus diketahui.
“Dari tokoh adat di Desa Wayafli, saya diberi jabatan dari Sultan Zainal Abidin Sjah waktu itu, “Uku (api)”. Karena dulu, jabatan tersebut ada syarat yaitu diletakkan di atas telapak tangan. Dari situlah, saya diberi jabatan dari Sultan,” ungkap Lukas Feblun, Selasa (10/10/2023).
Orang-orang di Buli menjadikan “iantoa” (kepala perang,red) dan sebagai tindakan. Misalnya, ketika melakukan demonstrasi terhadap PT. Priven Lestari pada 6 September 2023 lalu.
Berkaitan dengan “iantoa” dalam anggapan sebagai pahlawan khusus suku Buli. Ia diistilahkan seperti ikan tuna atau ikan ekor kuning dalam cerita orang-orang Buli. Suatu ketika, saat melakukan demonstrasi, para tetua di kampung Buli meminta atau dalam bahasa Tidore “Basiloa-loa” di rumah adat. Lukas mengaku tidak mempermasalahkan perihal saat itu dia tidak diberitahukan atau mendapatkan surat sebagai informasi terkait demonstrasi.





